Sabtu, 22 Mei 2010

INC FISIOLOGIS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di Indonesia kebanyakan persalinan terjadi di rumah masing-masing, hanya sebagian kecil di rumah sakit. Penanganan persalinan normal yang dibicarakan adalah persalinan di rumah sakit, sedang persalinan di rumah menyesuaikan dengan rumah sakit.
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya cervik, dan janin turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir.
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.
Perlu disadari bahwa persalinan adalah suatu tugas dari seorang ibu yang harus dihadapi dengan tabah, walaupun tidak jarang mereka merasa cemas dalam menghadapi masalah tersebut. Kecemasan tersebut antara lain meliputi rasa cemas apakah mereka dapat mengatasi kesukaran yang dihadapi, cemas apakah janinyang dikandung tidak cacat, dan cemas menghadpi rasa sakit. Oleh karena itu mereka membutuhkan penolong yang dapat dipercaya, yang dapat memberikan bimbingan dan selalu siap di depan dalam mengatasi kesukaran. Dengan didampingi oleh orang yang dapat dipercaya akan mengurangi rasa takut. Hal ini sesuai dengan pertanyaan “Apakah persalinan yang mudah menyebabkan ibu tenang, dan ibu yang tenang menyebabkan persalinan mudah“ atau kebalikannya “Apakah ketakutan menyebabkan persalinan sakit?“ Read menyatakan bahwa ketakutan menyebabkan otot-otot polos menjadi tegang dan ketegangan menyebabkan perasaan sakit.
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologi yang normal. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial yang ibu dan keluarga menantikannya selama 9 bulan. Ketika persalinan dimulai, peranan ibu adalah untuk melahirkan bayinya. Peran petugas kesehatan adalah memantau persalinan untuk mendeteksi dini adanya komplikasi, di samping itu bersama keluarga memberikan bantuan dan dukungan pada ibu bersalin.

1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Setelah melakukan asuhan kebidanan pada saat kerja lapangan mahasiswa mempunyai pengalaman yang nyata dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu inpartu secara adekuat dan komprehensif
b. Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan kebidanan diharapkan mahasiswa memahami dan mengerti serta dapat melakukan :
a Pengkajian pada ibu inpartu
b Identifikasi diagnosa dan masalah
c Antisipasi diagnosa dan masalah potensial
d Identifikasi kebutuhan segera dan kolaborasi
e Menyusun rencana tindakan kepada ibu inpartu
f Tindakan sesuai dengan rencana tindakan yang sudah disusun
g Evaluasi dari tindakan yang sudah diberikan pada ibu inpartu

1.3 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan ini terdiri dari :
LEMBAR JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan yang terbagi dalam tujuan umum dan tujuan khusus serta sistematika penulisan.
BAB II Landasan teori meliputi definisi, cara persalinan, istilah lain yang ada hubungannya dengan partus, sebab-sebab yang menimbulkan persalinan, tanda-tanda permulaan persalinan, tanda-tanda inpartu, mekanisme persalinan, fisiologi persalinan, jalannya persalinan secara klinis, faktor-faktor yang berperan dalam persalinan serta kebutuhan fisik dan psikologi ibu saat persalinan
BAB III Tinjauan kasus meliputi pengkajian data yang terdiri dari identitas/biodata, data subyektif, data obyektif, dan uji diagnostik. Interpretasi data yang terdiri dari diagnosa, masalah, dan kebutuhan. Identifikasi diagnosa dan masalah potensial, identifikasi kebutuhan akan tindakan segera atau kolaborasi, intervensi (merencanakan asuhan yang menyeluruh), implementasi (pelaksanaan), serta evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
a. Inpartu
Adalah seorang wanita yang sedang dalam keadaan persalinan
(Sarwono, 2002)
b. Persalinan
1) Adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, sesuai dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu
(Sastrawinata, 1983)
2) Adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar hubungan melalui jalan lahir dengan bantuan atau tanpa bantuan (Kekuatan Sendiri).
(Manuaba, 1998)
Kesimpulan
Inpartu adalah seorang wanita yang sedang dalam keadaan persalinan dimana saat uterus berkontraksi akan menyebabkan perubahan pada serviks (mendatardan menipis)
Persalinan adalah serangkaian kejadian pengeluaran hasil konsepsi (Janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan dari tubuhibu melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan atau tanpa bantuan

2.2 Cara Persalinan
a. Partus biasa (normal) disebut juga partus spontan adalah lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat, serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam
b. Partus luar biasa (Ab normal) ialah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi sectio caesarea
(Mochtar Rustam, 1998)
2.3 Istilah Lain Yang Ada Hubungannya Dengan Partus
a. Menurut tua (umur) kehamilan
1) Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat hidup (Viable), berat janin dibawah 1000 gram, tua kehamilannya dibawah 28 minggu
2) Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 28-36 minggu, janin dapat hidup tetapi prematur, berat janin antara 1000-2500 gram
3) Partus maturus atau aterm, (cukup bulan) adalah partus pada kehamilan 37-40 minggu / janin matur, berat badan diatas 2500 gram
4) Partus post maturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih waktu partus yang ditaksir, janin disebut post matur
5) Partus presipitatus adalah partus yang berlangsung cepat
6) Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya disroporsi sefatoedvik

b. Menurut cara persalinan
1) Partus biasa (normal) disebut juga partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada letak bokong kepala dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam
2) Partus luar biasa (abnormal) ialah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea (Synopsis I, hal 91)
3) Persalinan anjuran adalah persalinan tidak dimulai dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban pemberian pitocin atau prostaglandin

2.4 Sebab-Sebab Yang Menimbulkan Persalinan
Bagaimana terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his, yaitu :
a. Teori keregangan
 Otot-otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu
 Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai

b. Teori penurunan progesteron
 Proses penuaan plasenta terjadimulai umur hamil 28 minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu
 Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitiv terhadap oksitosin
 Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan progesteron tertentu

c. Teori oksitosin internal
 Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar
 Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi braxton hicks
 Menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan, maka oksitosin dapat meningkatkan aktifitas, sehingga persalinan dapat dimulai

d. Teori Prostaglandin
 Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur hamil 15 minggu yang dikeluarkan oleh desidua
 Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dikeluarkan
 Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu terjadinya persalinan

e. Teori hipotalamus – pluiriai dan glandula suprarenalis
 Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anenchepalus sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus (Lingin, 1973)
 Malpar pada tahun 1933 mengangkat otak kelinci percobaan, hasilnya kehamilan kelinci berlangsung lebih lama
 Dari percobaan tersebut disimpulkan ada hubungan antara hipotalamus pituarang dengan mulainya persalinan
 Glandula suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan

2.5 Tanda-Tanda Permulaan Persalinan
Sebelum terjadinya persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki “bulannya” atau “menunggu” atau “harinya” yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor). Tanda-tandanya sebagai berikut :
 Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atau panggul terutama pada primigravida
 Perut kelihatan melebar, fundus uteri turun
 Perasaan sering atau susah kencing karena kandung kemih terletak oleh bagian terbawah janin
 perasaan sakit diperut ke pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang disebut “fase labors paints”
 Servix menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah (blood show)
(Synopsis I, Hal 93)

2.6 Tanda-Tanda Inpartu
 Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih sering dan teratur
 Keluar lendir bercampur darah (show) lebih banyak karena robekan kecil pada servix
 Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya
 Pada pemeriksaan dalam servix mendatar dan pembukaan telah ada

2.7 Mekanisme Persalinan
I. Kala Persalinan
Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu :
a Kala I
Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan servixs hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm)

b Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi
c Kala III
Dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban
d Kala IV
Dimulai dari setelah lahirnya plasenta sampai 1-2 jam pertama post partum

2.8 Fisiologi Persalinan
a Kala Pembukaan (Kala I)
Kala pembukaan dibagi atas dua fase yaitu :
1) Fase aktif
Pada fase ini pembukaan berlangsung lambat, mulai 0-3 cm berlangsung 7-8 jam
2) Fase Aktif
Pada fase ini pembukaan berlangsung cepat, mulai pembukaan 4-10 cm, berlangsung 6 jam yang dibagi 3 sub fase :
a) Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan 3-4 cm
b) Periode dilatasi maksimal : berlangsung 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm
c) Periode decelarasi berlangsung 2 jam, pembukaan berlangsung lambat menjadi 10 cm / lengkap

Fase-fase yang dikemukakan diatas dijumpai pada primigravida.
Bedanya dengan multigravida adalah :
1) Servix mendatar (effocement) dulu, baru dilatasi
2) Berlangsung 13-14 jam

Multi :
1) Mendatar dan membukan bisa bersamaan
2) Berlangsung 6-7 jam

Perubahan Pada Kala I
1) Perubahan keadaan segmen atas dan segmen bawah rahim :
Dalam persalinan perbedaan antara segmen atas rahim dan segmen bawah rahim tampak lebih jelas lagi :
a) Segmen atas memegang berperan aktif karena berkontraksi dan dindingnya bertambah tebal dengan majunya persalinan
b) Sebaliknya segmen bawah rahim memegang peranan pasif dan makin tipis dengan majunya persalinan karena diregang (Obstetri Fisiologis, hal 227)
2) Perubahan bentuk rahim
Pada setiap kontraksi sumbu panjang rahim, bertambah panjang sedangkan ukuran melintang maupun ukuran muka belakang berkurang
3) Perubahan faal ligamentum rotundum
Ligamentum rotundum mengandung otot-ototo polos dan kalau uterus berkontraksi ototo-otot ligamentum rotundum ikut berkontraksi hingga ligamentum rotundum menjadi pendek
4) Perubahan pendataran dari cervix
Pendataran terutama nampak pada portio yang makin pendek dan akhirnya rata dengan majunya persalinan dan cervix yang pendek (lebih dari setengahnya telah merata) merupakan tanda cervix yang matang.
5) Pembukaan dari cervix
yang dimaksud dengan pembukaan cervix ialah pembesaran dari ostium externum yang tadinya berupa suatu lubang dengan diameter beberapa milimeter menjadi lubang yang dapat dilalui anak kira-kira 10 cm diameternya.
6) Perubahan pada vagina dan dasar panggul
Dalam kala I, ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina mengalami perubahan bertambah menjadi meregang, sehingga dapat dilalui anak
Setelah ketuban pecah segala perubahan terutama pada dasar panggul ditimbulkan oleh bagian depan anak
Oleh bagian depan yang maju itu, dasar panggul diregang menjadi saluran dengan dinding yang tipis
7) Perubahan pada anus
Dari luar, peregangan oleh bagian depan nampak pada perineum yang menonjol dan menjadi tipis sedangkan anus menjadi terbuka

b Kala Pengeluaran Janin (Kala II)
1) Turunnya kepala
Turunnya kepala dapat dibagi dalam
a) Masuknya kepala dalam pintu atas panggul
Pada primigravida sudah terjadi pada bulan terakhir dari kehamilan tetapi pada multigravida biasanya terjadi pada permulaan persalinan
b) Masuknya kepala dalam pintu atas panggul biasanya dengan sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan
c) Kalau satura sagitalis terdapat ditengah-tengah jalan lahir, ialah tepat diantara symfisis dan promontorium, maka dikatakan kepala dalam synclitismus
d) Jika sutura sagitalis agak kedepan mendekati symfisis atau agak kebelakang mendekati promontorium, maka kita hadapi asynolitismus
(1) Asynclitismus Oisterior
Kalau sutura sagitalis mendekati symfisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os perietal depan
(2) Asynclistismus Anterior
Kalau sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os parietale depan lebih rendah dari os parietal belakang
e) Majunya Kepala
Pada primigravida majunya kepala terjadi setelah kepala masuk kedalam rongga panggul dan biasanya baru mulai pada kala II. Pada multigravida sebaliknya majunya kepala dan masuknbya kepala dalam rongga panggul terjadi bersamaan.


2) Fleksi
Dengan majunya kepala biasanya juga fleksi bertambah hingga ubun-ubun kecil, jelas lebih rendah dari ubun-ubun besar, fleksi ini disebabkan karena anak didorong maju dan sebaliknya mendapat tahanan dari pinggir pintu atas dan sebaliknya mendapat tahanan dari pinggir pintu atas panggul, serviks, dinding panggul atau dasar panggul. Akibat dari kekuatan ini ialah terjadinya fleksi karena moment yang menimbulkan fleksi lebih besar dari moment yang menimbulkan defleksi
3) Putaran Paksi Dalam
Ialah pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar kedepan kebawah symfisis. Putaran paksi dalam tidak terjadi tersendiri, tetapi selalu bersamaan dengan majunya kepala dan tidak terjadi sebelum kepala sampai ke Hodge III, kadang-kadang baru setelah kepala sampai didasar panggul.
4) Ekstensi / Fefleksi
Disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah kedepan dan atas. Sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk melaluinya. Setelah sub occiput tertahan pada pinggir atas perineum ubun-ubun besar, dahi, hidung, mulut dan akhirnya dagu dengan gerakan ekstensi.
5) Putaran Paksi Luar
Setelah kepala lahir, maka kepala anak memutar kembali kearah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putara paksi dalam
6) Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah symfisis dan menjadi hipomoclion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir.



c Kala Pengeluaran Uri (Kala III)
Setelah bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar uterus yang teraba keras dengan fundus uteri setinggi pusat, dan berisi placenta yang menjadi tebal 2x sebelumnya. Beberapa saat kemudian timbul his pelepasan dan pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10 menit seluruh plasenta terlepas, terdorong kedalam vagina dan akan lahir spontan dan atau dengan sedikit dorongan dari atas symfisis atau fundus uteri.
Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc.
(Symfisis I, 1998, 97)

d Kala IV
Adalah kala pengawasan selama satu jam setelah bayi dan uri lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post partum.
(Symfisis I, 1998)
lamanya persalinan pada primigravida dan multi garavida

Primi Mulit
Kala I 13 jam 7 jam
Kala II 1 jam ½ jam
Kala III ½ jam ¼ jam
14 ½ jam 7 ¾ jam

2.9 Jalannya Persalinan Secara Klinis
I. Kala I
Persalinan pada kala pertama mempunyai tenggang waktu panjang yang memerlukan kesabaran parturien dan penolong. Mental penderita perlu dipersiapkan agar tidak cepat putus asa dalam situasi menunggu disertai sakit perut karena his yang makin lama makin bertambah kuat.
Tindakan yang perlu dilakukan adalah :
a Memperhatikan kesabaran pasien
b Melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi temperatur dan pernafasan berkala sekitar 2-3 jam
c Pemeriksaan denyut jantung jarum setiap ½ - 1 jam
d Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong
e Memperhatikan keadaan patologis
1) Meningkatkan lingkaran bandl
2) Ketuban pecah sebelum waktu atau disertai bagian janin yang menumbung
3) Perabaan denyut jantung janin setiap ½ atau 1 jam
f Pengeluaran mekonium pada letak kepala
g Keadaan his yang bersifat patologis
h Perubahan posisi atau penurunan bagian terendah janin
i Pasien diperkenalkan mengejan

Pada akhir kala pertama dapat terjadi ketuban pecah yang dapat disertai keinginan mengejan ditandai anus mulai terbuka.
(Manuaba, 1998 : 175)

II. Kala II
Ada beberapa tanda dan gejala kala II persalinan :
a Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
b Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginannya
c Perineum terlihat menonjol
d Vulva dan vagina dan spingter ani terlihat membuka
e Peningkatan pengeluaran lendiri dan darah
f Pembukaan serviks telah lengkap
g Terlihat bagian kepala bayi pada introitus vagina
(APN, 2002)
untuk mengkoordinasikan semua kegiatan menjadi resultante optimal saat his dan mengejan dapat dilakukan :
a Pasien diminta untuk merangkul kedua pahanya, sehingga dapat menambah pembukaan pintu bawah panggul
b Badan ibu dilengkungkan, sampai dagu menempel didada sehingga arah kekuatan menuju jalan lahir
c His dan mengejan dikerjakan bersamaa, sehingga kekuatannya optimal
d Saat mengejan nafas ditarik, sedalam mungkin dipertahankan dengan demikian diafragma abdominal membantu dorongan kearah jalan lahir
e Bila leher dan his masih berlangsung, nafas dapat dikeluarkan dan selanjutnya ditarik kembali untuk dipergunakan mengejan
f Melakukan observasi
1) Djj setiap his
2) Lingkar bandl
3) Penurunan bagian terendah janin
4) Kemungkinan terjadinya prolapsus bagian janin
(Manuaba, 176)
Dipuncak his, bagian kecil dari kepala nampak dalam vulva, tetapi hilang lagi waktu his terhenti. Pada his berikutnya bagian kepala yang nampak lebih besar lagi, tetapi sulit kembali kalau his berhenti.
Kejadian ini disebut kepala membuka pintu
Maju dan surutnya kepala berlangsung terus, sampai lingkaran terbesar dari kepala terpegang vulva, sehingga tidak dapat mundur lagi, pada saat itu tonjolan tulang ubun-ubun telah lahir dan sub ocaput ada dibawah symfisis, kejadian ini disebut kepala keluar pintu.
Setelah lahir ia jatuh kebawah dan kemudian terjadi putaran paksi luar, sehingga kepala melintang sekarang vulva menekan pada leher dan dada tertekan oleh jalan lahir sehingga dari hidung anak, keluar lendir dan cairan.
Pada his berikutnya bahu lahir, bahu belakang dulu kemudian bahu depan, disusul oleh seluruh badan anak dengan fleksi lateral, sesuai dengan paksi jalan lahir.
(Obs. Fisiologi, hal 261-262)

III. Kala III
Setelah lahirnya bayi, otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga secara tiba-tiba. Penyusutan ukuran rongga uterus secara tiba-tiba menyebabkan berkurangnya ukuran tempat implantasi plasenta, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah, maka plasenta akan menekan menebal, kemudian dilepas dari dinding uterus.
Tanda-tanda pelepasan placenta :
a Perubahan bentuk dan tinggi fundus
Uterus berbentuk bulat penuh (discoid) dan tinggi fundus biasanya turun hingga dibawah pusat. Saat uterus berkontraksi dan plasenta terdorong kebawah, uterus menjadi bulan dan fundus diatas pusat (seringkali mengarah ke sisi kanan).
b Tali pusat terlihat keluar memanjang
c Semburan darah tiba-tiba
Menandakan bahwa darah yang terkumpul diantara tempat melekatnya plasenta dan permukaan maternal plasenta (darah retroplasenter), keluar melalui tepi plasenta yang terlepas.

Manajemen Aktif Kala III
Keuntungan manajemen aktif kala III :
a Kala III persalinan lebih singkat
b Mengurangi jumlah kehilangan darah
c Mengurangi kejadian retensio plasenta

Tiga langkah utama manajemen aktif kala III :
a Pemberian suntikan oksitosin
1) Letakkan kain bersih diatas perut ibu dan periksa uterus untuk memastikan tidak ada bayi yang lain
2) Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik
3) Selambat-lambatnya dalam waktu 2 menit setelah bayi lahir, segera suntikan oksitosin 10 unti 1M pada 1/3 bagian paha kanan bagian luar
4) Melakukan penegangan tali pusat terkendali
a) Satu tangan diletakkan pada corpus uteri tepat diatas symfisis pubis
b) Tangan lain memegang tali pusat dekat vagina dan melakukan tarikan tali pusat yang terus menerus dalam tegangan yang sama sama kontraksi
c) Begitu plasenta terlepas, keluarkan dari jalan lahir dengan menggerakkan tangan / klem pada tali pusat kearah bawah lurus dan keatas
d) Setelah plasenta terlihat divagina, kita tangkap dan perlahan memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban
e) Pemijatan fundus uteri
(1) Dengan lembut tapi mantap, gerakkan tangan secara memutar pada fundus uteri sehingga uterus berkontraksi
(2) Periksa uterus setelah satu hingga dua menit untuk memastikan bahwa uterus berkontraksi dengan baik, jika uterus masih belum berkontraksi, ulangi pemijatan fundus uteri
(3) Periksa kontraksi uterus setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan setiap 30 menit selama 1 jam kedua pasca persalinan

b Macam-macam pelepasan placenta
1) Secara schultze
Pelepasan dimulai dari bagian tengah dari plasenta, bagian plasenta yang nampak dalam vulva ialah bagian foetal. Perdarahan tidak ada sebelum plasenta lahir.
2) Secara Duncan
Pelepasan dimulai dari bagian tengah dari plasenta, plasenta lahir dengan pinggirnya terlebih dahulu, yang nampak divulva ialah bagian maternal perdarahan sudah ada sejak sebagian dari plasenta terlepas.

IV. Kala IV
Terutama observasi ketat, karena bahaya perdarahan primer post partum terjadi pada 2 jam pertama. Jangan meninggalkan parturien seorang diri apabila tempatnya terjauh, sehingga perdarahan segera dapat diketahui.
Observasi yang dilakukan

a Kesadaran penderita
b Pemerikaan yang dilakukan :
1) Tekanan darah, nadi , pernafasan dan suhu
2) Kontraksi rahim yang keras
3) Perdarahan yang mungkin terjadi pada plasenta rest, luka episiotimi, perlukaan pada servix
4) Kandung kemih dikosongkan karena dapat mengganggu kontraksi rahim
(Manuaba, 184-185)

2.10 Faktor-Faktor Yang Berperan Dalam Persalinan
I. Power
a His (Kontraksi otot rahim)
1) Saat hamil
Sifatnya tidak teratur menyeluruh, tidak nyeri disebut kontraksi baraktonhiks
2) Kala I
a) Kontraksi bersifat simetris
b) Fundus dominan
c) Involunter (tidak dapat diatur oleh penderita)
d) Intervalnya makin lama makin pendek
e) Kekuatannya waktu besar diikuti retraksi
f) Menimbulkan rasa sakit pada pinggang, daerah perut dan menjalar kearah paha
3) Kala II
His sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinir dan lama terjadi refleksi mengejan karena kepala a nak menekan servix dimana terdapat fleksus franken hauser
4) Kala III
Setelah istirahat sekitar 8-10 menit rahim kontraksi untuk melepaskan plasenta dari incersinya dilapisan hitabusch
5) Kala IV
Kontraksi yang kuat dan pembentukan thrombus terjadi penghentian pengeluaran darah post partum
Dapat diperkuat dengan memberi obat uterotonika saat menyusui, bayi dapat menambah kontraksi karena pengeluaran oksitosin oleh kelenjar hipofisis posterior
(Manuaba, 162-163)
II. Tenaga Mengejan
Tenaga mengejan hanya dapat berhasil kalau pembukaan portio sudah lengkap dan palling efektif sewaktu kontraksi rahim
III. Passager (faktor janin)
Dalam persalinan yang menghambat dari faktor janin adalah kelainan ukuran bentuk kepala, kelainan letak dan kelainan kedudukan anak
IV. Passage (faktor jalan lahir)
Yang berpengaruh adalah rangka panggul, ruang panggul, pintu panggul, sumbu, ukuran dan jenis panggul
V. Psikis Wanita
Keadaan emosi ibu, suasana batinnya, adanya konflik anak diinginkan atau tidak
VI. Penolong
Dokter atau bidan yang menolong persalinann dengan pengetahuan dan ketrampilan dan seni yang dimiliki

2.11 Kebutuhan Fisik Dan Psikologi Ibu Saat Persalinan
Asuhan sayang ibu selama persalinan meliputi :
I. Dukungan Emosional
Dukungan dan anjurkan suami dan keluarga yang lain untuk mendampingi ibu selamapersalinan dan kelahiran. Anjurkan mereka untuk berperan aktif dalam mendukung dan mengenali langkah-langkah yang dimiliki akan sangat membantu kenyamanan ibu. Menghargai ibu untuk didampingi oleh teman atau saudara yang khusus. Bekerjasama dengan anggota keluarga untuk :
a Mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati dan pujian kepada ibu
b Membantu ibu bernafasn pada saat kontraksi
c Memijat punggung, kaki atau kepala ibu dan tindakan-tindakan bermanfaat lainnya
d Menyeka muka ibu dengan lembut, menggunakan kain yang dibasahi dengan air hangat atau dingin
e Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman
II. Mengatur Posisi
Menganjurkan ibu untuk mencoba posisi-posisi yang nyaman selama persalinan dan kelahiran. Ibu boleh berjalan atau berdiri, duduk jongkok dan berbaring miring atau merangkak. Posisi tegak seperti berjalan, berdiri atau jongkok dapat membantu turunnya kepala bayi dan sering kali mempersingkat waktu persalinan, jangan membuat ibu dalam posisi terlentang, karena berat uterus dan isinya akan menekan vena kava inferior. Hal ini menyebabkan hipoksia pada janin dan memperlambat kemajuan persalinan
III. Pemberian cairan dan nutrisi
Anjurkan ibu untuk mendapat asupan cairan dan nutrisi selama persalinan dan kelahiran bayi. Anjurkan anggota keluarga untuk menawarkan ibu minum sesering mungkin dan makanan ringan selama persalinan
a Mencegah dehidrasi
b Memberikan tenaga
Jika dehidrasi dapat memperlambat kontraksi dan atau membuat his menjadi kurang teratur
IV. Kebersihan
Jalan lahir (vulva) yang lembab memudahkan mikroorganisme untuk berkembang biak, sehingga bisa menyebabkan infeksi dan dapat mengakibatkan kematian / kesakitan pada ibu dan bayi ibu hendaknya mandi / dimandikan serta menggunakan pakaian yang bersih pada waktu persalinan
Penolong persalinan harus sering cuci tangan dan menggunakan alat yang telah didesinfeksi atau steril
V. Buang air bersih
Sebelum melahirkan ibu sedapat mungkin BAB lebih dahulu. Rectum yang pernah memberi rasa tidak nyaman selama persalinan, bagi ibu yang mengalami kesulitan dengan BAB dapat dibatnu dengan klisma. Hindari klisma pada ibu yang berada dalam tahap lanjut persalinan (ketuban sudah pecah, mengalami perdarahan, menderita hipertensi)
VI. Buang air kecil
Ibu bersalin sebaiknya BAK minimal setiap 2 jam atau bukan mungkin lebih sering lagi. Kandung kemih yang penuh akan menghambat turunnya bayi kedasar panggul dan memberikan rasa tidak nyaman bagi ibu.

LETSU TEORI

BAB 2
LANDASAN TEORI



2.1 Pengertian
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri), yang dapat hidup ke dunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.
(Mochtar, R. 1998 : 91)
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu.
(Obstetri : UNPAD 1983)
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri).
(Manuaba. 1998 : 157)
2.2 Macam-macam Persalinan
• Persalinan spontan
Bila persalinan seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir.
• Persalinan buatan
Bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar misalnya ekstraksi dengan adanya forcep atau SC.
• Persalinan anjuran
Bila bayi sudah cukup untuk hidup diluar tetapi tidak sedemikian besarnya sehingga menimbulkan kesulitan dalam persalinan.
(Manuaba,1998 : 157)


2.3 Letak Sungsang
Letak Sungsang adalah janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada di fundus dan bokong di bawah (Rustam M, 1998:350).
Letak sungsang adalah letak membujur dimana kepala terletak di fundus uteri sedangkan bokong di atas simphisis (Manuaba, 1993 : 145).

2.4 Etiologi Letak Sungsang
2.4.1. Sudut ibu
a. Keadaan rahim
- Rahim arkuatus
- Septum pada rahim
- Uterus dupleks
- Mioma bersama kehamilan.
b. Keadaan plasenta
- Plasenta letak rendah
- Plasenta previa
c. Keadaan jalan lahir
- Kesempitan panggul
- Deformitas tulang panggul
- Terdapat tumor menghalangi jalan lahir dan perputaran ke posisi kepala.
2.4.2 Sudut janin
- Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat
- Hidrosefalus atau anensefalus
- Kehamilan kembar
- Hidramnion atau oligohidramnion
- Prematuritas
(Manuaba, 1998 : 361)




2.5 Patofisiologi Letak sungsang
1. Bagi Ibu
Kemungkinan robekan pada perineum lebih besar, juga karena dilakukan tindakan, selain itu ketuban lebih cepat pecah dan partus lebih lama, jadi mudah terkena infeksi.
2. Bagi anak
Prognosa tidak begitu baik, karena adanya peredaran darah placenta setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir, tali pusat terjepit antara kepala dan panggul, anak bisa menderita asfiksia. Oleh karena itu setelah pusat leher, maka janin harus dilahirkan dalam waktu 8 menit.
(Mochtar, 1998 : 365)

2.6 Klasifikasi
1. Letak bokong (Frank Breech)
Letak bokong dengan dua tungkai terangkat ke atas.
2. Letak sungsang sempurna (complete Breech)
Letak bokong dimana kedua kaki ada disamping bokong.
3. Letak sungsang tidak sempurna (incomplete Breech)
Adalah letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki/ lutut terdiri dari :
- Kedua kaki : letak kaki sempurna
- Satu kaki : letak kaki tidak sempurna
- Kedua lutut : letak lutut sempurna
- Satu lutut : letak lutut tidak sempurna
Posisi bokong ditentukan oleh sakrum, ada 4 posisi :
1) Left sacrum anterior (sakrum kiri depan)
2) Right sacrum anterior (sakrum kanan depan)
3) Left sacrum posterior (sakrum kiri belakang)
4) Right sacrum posterior (sakrum kanan belakang)

(Mochtar, 1998 : 350)

2.7 Tanda dan Gejala
1. Pergerakan anak terasa oleh ibu dibagian perut bawah dibawah pusat dan ibu sering merasa benda keras (kepala) mendesak tulang iga.
2. Pada palpasi teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus uteri.
3. Punggung anak dapat teraba pada salat satu sisi perut dan bagian-bagian kecil pada pihak yang berlawanan. Diatas sympisis teraba bagian yang kurang budar dan lunak.
4. Bunyi jantung janin terdengar pada punggung anak setinggi pusat.
2.8 Diagnosis
1. Palpasi
Kepala teraba di fundus, bagian bawah bokong ,dan punggung dikiri atau kanan.
2. Auskultasi
DJJ paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat.
Ddj X djj X
3. Pemeriksaan dalam
Dapat diraba os sakrum, tuber ischii, dan anus, kadang – kadang kaki (pada letak kaki)
Bedakan antara :
- Lubang kecil - Mengisap
- Tulang (-) - Rahang Mulut
- Isap (-) Anus - Lidah
- Mekoneum (+)
- Tumit - Jari panjang
- Sudut 90 0 Kaki - Tidak rata Tangan siku
- Rata jari – jari - Patella (-)
- Patella Lutut
- Poplitea
4. Pemeriksaan foto rontgen : bayangan kepala di fundus


2.9 Mekanisme Persalinan sungsang
Bokong masuk pintu atas panggul dapat melintang atau miring mengikuti jalan lahir dan melakukan putar paksi dalam sehingga trochanter depan berada dibawah simfisis. Dengan trachanter depan sebagai hipomoklion, akan lahir trachanter belakang dan selanjutnya seluruh bokong lahir. Sementara itu bahu memasuki jalan lahir dan mengikuti jalan lahir untuk melakukan putaran paksi dalam sehingga bahu depan berada dibawah simfisis. Dengan bahu depan sebagai hipomoklion akan lahir bahu belakang bersama dengan tangan belakang diikuti kelahiran bahu depan dan tangan depan.
Bersama dengan kelahiran bahu, kepala bayi memasuki jalan lahir dapat melintang atau miring, serta melakukan putar paksi dalam sehingga suboksiput berada dibawah simfisis. Suboksiput menjadi hipomoklion, berturut-turut akan lahir dagu, hidung, muka dan kepala seluruhnya. Persalinan kepala mempunyai waktu terbatas sekitar 8 menit, setelah bokong lahir. Jika melawati batas 8 menit dapat menimbulkan kesakitan / kematian bayi.
Pada perslinan sungsang ibu jangan mengedan sebelum pembukaan lengkap. Pembukaan lengkap dipastikan dengan pemeriksaan pervaginam.
Berdasarkan komposisi dari bokong dan kaki dapat ditentukan beberapa bentuk letak sungsang sebagai berikut :
1. Letak bokong murni
- Teraba bokong.
- Kedua kaki menjungkit keatas sampai kepala bayi.
- Kedua kaki bertindak sebagai spaik.
2. Letak bokong kaki sempurna.
- Teraba bokong.
- Kedua kaki terletak disamping bokong.
3. Letak bokong tak sempurna
- Teraba bokong.
- Disamping bokong terdapat satu kaki.

4. Letak kaki
- Bila bagian terendah teraba salah satu dan kedua kaki atau lutut.
- Dapat dibedakan : letak kaki terendah, letak lutut bila lutut rendah.

2.10 Berdasarkan Jalan yang dilalui, persalinan sungsang dibagi 2
1. Persalinan pervaginam
- Spontaneus Breech ( Bracht )
- Partial Breech Extraction : Manual Aid Asisted Breech Delivery
- Total Breech Extraction
2. Persalinan Perabdominal : Sectio Cesarea
Pada persalinan Borcht ada 3 Tahap
- Fase Lambat ( Bokong lahir sampai umbilikus, scapula amerior )
- Fase Cepat ( Dari umbilikus sampai mulut / hidung )
- Fase Lambat ( Dari mulut / hidung sampai seluruh kepala lahir )
( Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo, 1999 )

2.11 Penanganan
Sikap Sewaktu Hamil
Karena kita tahu bahwa prognosa bagi anak tidak begitu baik, maka usahakan merubah letak janin dengan versi luar. Tujuannya adalah untuk merubah letak menjati letak kepala. Hal ini dilakukan pada primi dengan kehamilan 34 minggu, multi, dengan usia kehamilan 36 minggu dan tidak ada panggul sempit, gemeli atau plasenta previa.
Syarat :
- Pembukaan kurang dari 5 cm
- Ketuban masih ada
- Bokong belum turun atau belum masuk pintu atas panggul
Teknik :
1. Lebih dulu bokong lepaskan dari pintu atas panggul dan ibu berada
dalam posisi trendelen burg
2. Tangan kiri letakkan dikepala dan tangan kanan pada bokong
3. Putar ke arah muka / perut janin
4. Lalu tukar tangan kiri diletakkan dibokong dan tangan kanan dikepala
5. setelah berhasil pasang gurita dan observasi tensi, DJJ dan keluhan

Pimpinan Persalinan
1. Cara berbaring
- Litotomi sewaktu inpartu
- Trendelenburg
2. Melahirkan Bokong
- Mengawasi sampai lahir spontan
- Mengait dengan jari
- Mengait dengan pengait bokong
- Mengait dengan tali sebesar kelingking
3. Ekstraksi kaki
Ekstraksi pada kaki lebih mudah. Pada letak bokong janin dapat dilahirkan dengan cara vaginal atau abdominal ( sectio sesarea )

Cara melahirkan Pervaginam
Terdiri dari partus spontan ( pada letak sungsang janin dapat lahir secara spontan seluruhnya) dan manual aid ( manual life )
Waktu memimpin partus dengan letak sungsang harus diingat bahwa ada 2 fase :
Fase 1. Fase Menunggu
Sebelum bokong lahir seluruhnya, kita hanya melakukan observasi. Bila tangan tidak menjungkit ke atas (nuchee arm), persalinan akan mudah. Sebaiknya jangan di lakukan exspresi krsiteller, karena hal ini akan memudahkan terjadinya nuchee arm.
Fase 2. Fase untuk bertindak cepat
Bila badan janin sudah lahir sampai pusat, tali pusat akan tertekan antara kepala dan panggul, maka janin harus lahir dalam waktu 8 menit. Untuk mempercepat janin dapat dilakukan manual aid.


Cara melahirkan bahu dan tangan
Cara klasik ( Deventer )
Pegang bokong dengan menggunakn ibu jari berdampingan pada os sakrum dan jari lain dilipat paha. Kemudian janin ditarik kearah bawah, ssssehingga skapula berada dibawwwah simfisis. Lalu lahirkan bahu dan lengan belakang, kemudian lengan depan.

Cara Lovset
Setelah sumbu bahu janin berada dalam ukuran muka belakang, tubuhnya ditarik ke bawah lalu dilahirkan bahu serta lengan belakang. Setelah itu janin diputar 900 sehingga bahu depan menjadi bahu belakang, lalu dikeluarkan seperti biasa.

Cara Muller
Tarik janin vertikal kebawah lalu dilahirkan bahu dan lengan depan. Cara melahirkan bahu-lengan depan bisa spontan atau dikait dengan satu jari menyapu muka. Lahirkan bahu belakang dengan menarik kaki keatas lalu bahu-lengan belakang dikait menyapu kepala.

Cara Bracht
Bokong ditangkap, lengan diletakkan pada paha dan sakrum, kemudian janin ditarik ke atas. Biasanya hal ini dilakukan pada janin yang tidak begitu besar dan multipara.

Cara Potter
Dikeluarkan dulu lengan dan bahu depan dengan menarik janin ke bawah dan menekan dengan 2 jari pada skapula. Badan janin diangkat ke atas untuk melahirkan lengan dan bahu belakang dengan menekan skapula belakang.


Melahirkan Kepala
Mauriceau ( Veit Smellie )
Masukkan jari-jari dalam mulut (muka mengarah ke kiri : jari kiri, mengarah ke kanan : jari kanan). Letakkan anak menunggang pada lengan sementara tangan lain memegang pada tengkur. Lalu tarik ke bawah sampai rambut dan kepala dilahirkan. Kegunaan jari dalam mulut hanya untuk menambah fleksi kepala.

De Snoo
Tangan kiri menadah perut dan dada serta 2 jari diletakkan dileher (menunggang kuda). Tangan kanan menolong menekan diatas simfisis. Perbedaannya dengan Mauricheau ialah di sini tangan tidak masuk dalam vagina.
Wigand Martin – Winckel
Satu tangan (kiri) dalam jalan lahir dengan telunjuk dalam mulut janin sedang jari tengah dan ibu jari pada radang bawah. Tangan lain menekan diatas simfisis atau fundus.

Naujoks
Satu tangan memegang leher janin dari depan, tangan lain memegang leher pada bahu, tarik janin ke bawah dengan bantuan dorongan dari simfisis.

Cara Prouge Terbalik.
Dilakukan pada ubun-ubun kecil terletak sebelah belakang. Satu tangan memegang bahu janin dari belakang, tangan lain memegang kaki lalu menarik janin kearah perut ibu dengan kuat.

Ekstraksi
Terdiri atas ekstraksi pada kaki dan ekstraksi pada bokong karena ekstraksi pada bokong sedikit sukar, kita sedapat mungkin berusaha untuk melakukan ekstraksi pada kaki, sebab mudah dikerjakan.

Perasat Profilaksis Pinard
Maksudnya adalah melakukan ekstraksi pada kaki sebelum ada indikasi, hanya untuk berjaga-jaga. Caranya dengan menekan paha anak terhadap perutnya, dengan sendirinya kaki akan jatuh dan dapat dikeluarkan. Kaki yang keluar dapat menambah permukaan. Bila akan dilakukan tindakan setelahnya, akan mudah menarik kaki.
Ada yang setuju dengan perasat ini, tetapi ada pula yang tidak membenarkan. Alasan yang kontra adalah bila kaki dikeluarkan maka mudah mendapatkan rangsangan dan anak akan menjadi mudah asfiksia ( rangsangan bernafas).
Dalam menghadapi persalinan letak sungsang yang terpenting adalah menentukan apakah anak akan lahir pervaginam atau harus dilakukan dengan seksio sesarea. Dilihat dari sudut anak, maka seksio sesarea adalah cara yang terbaik. Oleh karena persalinan pervaginam bagi anak membawa angka kematian tinggi. Meskipun anak hidup, sering terjadi gangguan pada otak dengan akibat yang tidak kita inginkan. Pada letak sungsang dapat dilakukan seksio sesarea bila ada perkiraan panggul sempit dan bila persalinan tidak benar.
Cara Reposisi tangan Menjungkit ( Nuchee Arm )
1. Satu tangan menjungkit
Janin diputar 900 kearah mana tangan menunjuk, sehingga tangan akan terlepas menyapu kepala.
2. Kedua tangan menjungkit
Untuk tangan pertama seperti diatas dan untuk tangan kedua diputar berlawanan 1800.
( Sinopsis Obstetri, Jilid 1 tahun 1998 )

Sabtu, 06 Maret 2010

BBL

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada era globalisasi yang semakin maju diharapkan bangsa Indonesia dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, salah satunya dalam bidang kesehatan bayi dan anak. Pemberian asuhan kesehatan pada anak yang tidak terpecahkan dari keluarga dan masyarakat. Berbagai peran yang terdapat dalam keluarga adalah peranan ayah, peranan ibu, peranan anak, dimana fungsi pokok keluarga adalah terhadap anggota keluarganya adalah asah,asih, asuh. Sehingga dibutuhkan peranan ibu dalam pengasuhan dan perawatan yang baik untuk bayinya ( Effendi, 1998: 34-36 ). Kebanyakan perwatan neonatal yang dialami masyarakat adalah kurangnya pengetahuan dalam perwatan BBL. Terutama didaerah desa pelosok banyak dijumpai ibu yang baru melahirkan dengan perawatan bayi yang tradisional serta pendidikan dan tingkat sosial ekonominya yang masih rendah. Selain itu juga dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan wanita, suami dan keluarga tentang pentingnya pelayanan neonatal (Depkes RI, 2001).

Peride BBL merupakan suatu periode penyesuaian kearah bentuk kehidupan tidak tergantung sebagain besar dari proses penyesuaian ini diselesaikan dalam sekitarminggu pertama. Sekalipun demi tujuan bulan pertama kehidupan dilukiskan sebagai periode neonatal. Menurut nelson, mengatakan bahwa mortalitas neoratus telah menurun secara progresif, angka kematian mortalitas tertinggi terjadi selama 24 jam bersama setelah lahir yang disebabkan oleh kurangnya perawatan neoratotal. Disamping hal tersebut juga ibu belum banyak mengetahui tentang perawatan bayinya yang baik dan jika melakukan perawatan yang salah akan mempercepat kematian bayi (Nelson, 2000:140)

Salah satu upaya atau cara untuk mengatasi masalah perawatan BBL, mala pusat pelayanan kesehatan dan perawatan maupun Puskesmas mengadakan program bagi ibu yaitu dengan menjelaskan pemberian asuhan keperawatan yang aman dan berkwalitas, juga mengenai perfokus dan beradaptasi dengan keluarga dan bayi baru lahir. Selain itu peningkatan pengetahuan ibu dan keluarga dalam rangka pemberdayaan wanita dan keluarga ini sudah menjadi salah satu kebijkan pemerintah dengan mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan untuk menjamin perilaku sehat dan peningkatan pelayanan kesehatan (Barbara 2002).

1.2 Rumusan Masalah dan Tujuan

Bagaimana gambaran pengetahuan pada ibu tentnag perwatan bayi baru lahir ?

Tujuan :

    1. Tujuan Umum.

Untuk mempelajari gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir.

    1. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat yang terjadi setelah lahir.

b. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan ibu tentang cara perawatan memandikan bayi baru lahir.

c. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan ibu tentang cara memakai baju bayi.

d. Mengidentifikasi gambaran pengethauan ibu tentang cara mengangkat bayi dari posisi terlentang

1.3 Manfaat

Memberikan masukan pada perawat akan pentingnya informasi dan motivasi ibu tentang perawatan bayi baru lahir, serta dapat dijadikan untuk melengkapi perpustakaan bahan pustaka bagi pengembangan untuk penelitian yang lebih lanjut.

Diharapkan ibu mengerti dan faham khususnya tentang gambaran pengetahuan ibu pada bayi baru lahir.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Bayi Baru Lahir adalah bayi yang baru lahir dari kehamilan cukup bulan yaitu 37 minggu – 42 minggu dan berat badan lahir 2500 s/d 4000 gr (Universitas Padjajaran 1997 : 98).

Bayi baru lahir dapat dibagi menjadi dua yaitu :

1. Bayi normal (sehat) memerlukan perawatan biasa.

2. Bayi gawat (high risk baby) memerlukan penanggulangan khusus seperti adanya asfiksia dan perdarahan.

BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram (sampai 2499 gram) tanpa memandang masa kehamilan. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. Untuk keperluan bidan di desa berat lahir diterima dalam 24 jam pertama setelah lahir.

Berat badan lahir rendah (BBLR) terdapat 2 penyebab kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram, yaitu karena umur kehamilan kurang dari 37 minggu, berat badan lebih rendah dari semestinya, sekalipun umur kehamilan cukup atau kombinasi keduanya.

Menurut (Saifuddin dkk, 2000) berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya bayi berat lahir rendah dibedakan menjadi :

1. Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1500-2500 gram

2. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir <1500>

3. Bayi baru lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir <1000>

Menurut Cunningham dkk, BBLR didefinisikan sebagai bayi lahir kurang dari 2500 gram dan telah dimodifikasi untuk menguraikan BBLR yang beratnya 1500 gram atau kurang dan bayi yang luar biasa rendah (BBLBR) dan berat 1000 gram atau kurang. Menurut Mochtar (1998) sejak tahun 1961 WHO mengganti istilah premature dengan brat badan lahir rendah (BBLR) karena disadari tidak semua bayi yang berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bukan bayi premature.

Bayi berat lahir rendah (BBLR) dapat digolongkan menjadi:

1. Prematuritas murni.

Bayi lahir pada kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan yang sesuai.

2. Small for date (SFD) atau kecil untuk masa kehamilan (KMK).

Bayi yangerat badannya kurang dari seharusnya umur kehamilan.

3. Retardasi pertumbuhan janin intrauterine .

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai umur kehamilan.

4. Dismaturitas.

Suatu sindrom klinik dimana terjadi ketidak seimbangan antara pertumbuhan janin dengan lanjutnya kehamilan. Atau bayi lahir dengan berat badan yang tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.

5. Large for date.

Bayi yang dilahirkan lebih besar dari seharusnya tuanya kehamilan.

2.2 Karakteristik BBL dan BBLR

Bayi biasanya besar kepada kepala dan badan, tungkai pendek, kecil dengan paha yang kecil, leher pendek dan goyah, kadang datar dan tidak mempunyai dagu, telapak kaki kecil dan datar karena ada bantalan lemak pada telapak kaki dibawahnya, lengan terlihat sangat kecil dengan tubuh yang besar, kaki agak panjang dan lemas, genetalia wanita labia mayora menutupi labia minora, sedangkan testis sudah turun. Berat badan 2500 gr s/d 4000 gr, PB = 48 s/d 52 cm, LIDA = 36 s/d 38 cm, LIKA = 33 s/d 35 cm, LILA = 11 s/d 12 cm. Bunyi detak jantung pada menit pertama 120 s/d 160 x/menit, pada menit pertama pernafasan cepat 80 x/menit, kemudian menurun setelah tenang sekitar 40 x/menit, warna kulit kemerahan dan licin karena jaringan subcutan belum cukup terbentuk dan diliputi verniks caseosa.

2.3 Perubahan pada Bayi Baru Lahir

1. Pernafasan

Awal adanya nafas kaena 2 faktor yang berperan : pertama hipoxia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat pernafasan. Yang kedua telkanan terhadap rongga-rongga dada yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan yang merangsang masuknya udara kedalam paru-paru secara mekanis(Varny : 551-552).

2. Sistem Peredaran Darah

Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam sistem pembuluh darah pertama pada saat tali pusat dipotong. Resusitas pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena kurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Kedua pernafasan pertama ini menimbulkan penurunan resistensi pembuluh darah paru-paru dan meningka atrium kanan O2. Pada pernafasan pertama ini menimbulkan relaksasi dan terbentuknya sistem pembuluh darah paru-paru. Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan, dengan peningkatan tekanan atrium kanan ini penurunan tekanan pada atrium kiri, maka paramen ovale akan menutup.

3. Pengaturan Suhu

Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya. Pada saat bayi baru lahir meninggalkan lingkungan rahim ibu yang hangat, BBL kemudian masuk ke lingkungan yang lebih dingin di luar rahim. Sehingga menyebabkan air ketuban lewat kulit sehingga mendinginkan darah bayi. Usaha utama seorang bayi kedinginan dalam pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil dengan menggunakan lemak coklat. Timbunan lemak coklat yang ada di seluruh tubuh yang mampu menaikkan panas tubuh sampai 100%.

4. Mekanisme Glukosa

Untuk mengfungsikan otak diperlukan glukosa dalam jumlah tertentu dengan menjepitkan tapus pada saat lahir glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1-2 jam saja). Koreksi penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu melalui penggunaan cadangan glikogen (glikoginolisis) dan melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak (glukoneogenesis).

5. Sistem Gastroitestinal

Kemampuan BBL cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas hubungan antara adsophagus dan lambung masih belum sempurna mengakibatkan gumoh. Kapasitas lambung kurang dari 30cc, kapasitas lambung akan bertambah secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi.


2.4 Klasifikasi BBLR

Menurut Ilyas, dkk (1994), dan Winkjosastro (2005) bayi dengan berat badan lahir rendah di bagi menjadi dua golongan, yaitu:

1. Prematuritas Murni

Prematuritas murni adalah bayi lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau bisa disebut neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan (MKB-SMK).

2. Dismaturitas

Dismaturitas adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan. Hal ini karena bayi mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK).

2.5 Penyebab BBLR

1. Menurut Manuaba (1998), faktor - faktor yang dapat yang dapat menyebabkan terjadinya BBLR adalah :

a. Faktor ibu

1) Gizi saat hamil yang kurang.

Kekurangan zat gizi yang diperlukan saat pertumbuhan dapat mengakibatkan makin tingginya kehamilan prematur atau BBLR dan cacat bawaan.

2) Umur kurang dari 20 tahun/diatas 35 tahun

3) Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat (kurang dari 1 tahun).

Jarak kehamilan sebaiknya lebih dari 2 tahun. Jarak kehamilan yang terlalu dekat menyebabkan ibu punya waktu yang terlalu singkat untuk memulihkan kondisi rahimnya agar bisa kembali kekondisi sebelumnya.

4) Paritas

5) Penyakit Ibu.

Penyakit ibu yaitu penyakit yang diderita ibu sebelum hamil atau penyakit yang menyertai kehamilan.

b. Faktor kehamilan

1) Hamil dengan hidramnion

2) Perdarahan antepartum

3) Komplikasi hamil meliputi preeklamsi/eklamsi dan ketuban pecah dini.

c. Faktor janin

1). Cacat bawaan

2). Infeksi dalam rahim

2. Menurut Surasmi, (2003) Faktor-faktor yang menyebabkan kelahiran prematur :

a. Faktor ibu.

Toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi, kelainan bentuk uterus, tumor, ibu yang menderita (penyakit tifus abdominalis, malaria, TBC, penyakit jantung), trauma pada masa kehamilan (jatuh, stres), usia ibu waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.

b. Faktor janin.

Kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini, cacat bawaan, infeksi.

c. Faktor plasenta.

Plasenta previa, solusio plasenta.

d. Faktor yang tidak diketahui.

3. Menurut Winkjosastro(2005) faktor yang merupakan predisposisi terjadinya kelahiran prematur:

a. Faktor ibu.

Riwayat kelahiran prematur sebelumnya, perdarahan antepartum, malnutrisi, kelainan uterus, hidramnion, penyakit jantung, hipertensi, umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jarak dua kehamilan yang terlalu dekat, infeksi, trauma dan lain-lain.

b. Faktor janin.

Cacat bawaan, kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini.

c. Keadaan sosial ekonomi rendah.

d. Kebiasaan.

Pekerjaan yang melelahkan, merokok.

e. Tidak diketahui

2.6 Faktor Resiko BBLR

Menurut Berhman cit Anna Wijayanti (2000), berbagai faktor resiko pada ibu hamil yang berhubungan dengan kejadian BBLR antara lain:

1. Resiko demografi.

Usia ibu hamil <17>35 tahun, ras, status sosial ekonomi rendah.

2. Resiko medis sebelum hamil.

Paritas >4, berat badan dan tinggi badan ibu yang rendah, cacat bawaan, infeksi saluran kencing, DM, hipertensi kronis, rubella, riwayat obstetric jelek (BBLR, abortus spontan, kelainan genetik).

3. Resiko medis saat hamil.

Penambahan berat badan selama hamil, interval kehamilan yang pendek, hipotensi, hipertensi, preeklampsia, eklampsia, bakteruria, infeksi TORCH, perdarahan trimester I, kelainan plasenta, hiperemesis gravidarum, oligohidramnion, polihidramnion, anemia, abnormal, ketuban pecah dini.

4. Resiko perilaku dan lingkungan.

Merokok, gizi kurang, alkohol, obat-obatan keras, terpapar bahan kimia toksik dan tempat tinggal di ketinggian.

5. Faktor Resiko lainnya.

Pemeriksaan kehamilan in adekuat, stress atau gangguan psikososial, uterus mudah berubah bentuk, kontraksi uterus tiba-tiba, defisiensi hormon progesteron.

2.7 Tanda Bahaya BBL

Tanda bahaya pada bayi baru lahir. Bayi baru lahir biasanya mudah sakit, jika sakit bisa berubah cepat menjadi kondisi yang serius dan berat. Bahkan, bisa menyebabkan bayi meninggal dunia.

Gejala sakit pada bayi baru lahir memang sulit dikenali. Dengan mengetahui tanda bahaya, bayi akan cepat mendapat pertolongan sehingga dapat mencegah kematian.

Rata-rata bayi yang baru lahir banyak yang meninggal karena terlambat mengetahui tanda bahaya, terlambat memutuskan membawa bayi berobat ke dokter dan terlambat sampai ke tempat berobat.

Untuk mewaspadainya kenalilah tanda bahaya pada bayi baru lahir seperti di bawah ini:

1. Tidak mau menyusu atau memuntahkan semua yang diminum. Dan ini tandanya bayi terkena infeksi berat.

2. Bayi kejang. Kejang pada bayi baru lahir kadang sulit dibedakan dengan gerakan normal. Jika melihat gejala atau gerakan yang tak biasa dan terjadi secara berulang-ulang seperti menguap, mengunyah, menghisap, mata berkedip-kedip, mata mendelik, bola mata berputar-putar dan kaki seperti mengayuh sepeda yang tidak berhenti kemungkinan bayi kejang.

3. Bayi lemah. Bergerak jika hanya dipegang. Ini tandanya bayi sakit berat.

4. Sesak nafas 60 kali permenit.

5. Bayi merintih. Ini tanda bayi sakit keras.

6. Pusar kemerahan sampai dinding perut. Jika kemerahan sudah sampai ke dinding perut tandanya sudah terjadi infeksi berat.

7. Demam. Suhu tubuh bayi lebih dari 37,5 derarat celcius atau tubuh teraba dingin suhunya dibawah 36,5 derajat celcius.

8. Mata bayi bernanah banyak. Ini dapat menyebabkan bayi menjadi buta.

9. Bayi diare, mata cekung, tidak sadar. Jika kulit perut dicubit akan kembali lambat. Ini tandanya bayi kekurangan cairan yang berat bisa menyebabkan kematian.

10. Kulit bayi terlihat kuning. Kuning pada bayi berbahaya jika muncul pada hari pertama atau muncul setelah kurang dari 24 jam setelah lahir. Ditemukan pada umur lebih dari 14 hari dan kuning sampai ke telapak tangan atau kaki.

11. Buang air besar atau kotoran bayi berwarna pucat segera periksakan bayi ke dokter, bidan atau perawat.

Jika menemukan satu atau lebih dari tanda bahaya dari bayi, usahakan bayi tetap hangat selama dalam perjalanan ke tempat pemeriksaan. Dengan cara membungkus bayi dengan kain yg tebal.

2.8 Masalah-masalah pada BBL dan BBLR

1. Asfiksia

2. Gangguan nafas

3. Hipotermi

4. Hipoglikemi

5. Masalah pemberian ASI

6. Infeksi

7. Ikterus

8. Masalah perdarahan

2.9 Pencegahan

1. Upayakan agar melakukan antenatal care yang baik, segera melakukan konsultasi merujuk penderita bila terdapat kelainan

2. Meningkatkan gizi masyarakat sehingga dapat mencegah terjadinya persalinan dengan BBLR.

3. Tingkatkan penerimaan gerakan keluarga berencana.

4. Anjurkan lebih banyak istirahat bila kehamilan mendekati aterm atau istirahat baring bila terjadi keadaan yang menyimpang dari normal.

5. Tingkatkan kerjasama dengan dukun beranak yang masih mendapat kepercayaan masyarakat.

2.10 Penatalaksanaan

1. Mempertahankan suhu tubuh dan lingkungan

Menjaga kehangatan bayi baru lahir adalah suatu hal yang sangat penting. Sesegera mungkin bayi diberi baju dari bahan yang nyaman, dibedong dan kepalanya ditutup untuk mengurangi kehilangan panas tubuh. Diberikan tetes mata perak nitrat atau antibiotik untuk perlindungan terhadap infeksi akibat kontak dengan organisme berbahaya selama persalinan. Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, bayi ditempatkan dalam tempat tidur bayi yang kecil dalam posisi miring dan menjaganya tetap hangat.

Menidurkan bayi dalam posisi miring akan mencegah penyumbatan saluran pernafasan oleh cairan atau lendir yang bisa menghalangi pernafasan.

Karena semua bayi baru lahir memiliki sedikit jumlah vitamin K, dokter atau perawat memberikan suntikan vitamin K untuk mencegah perdarahan (penyakit perdarahan pada bayi baru lahir).
Larutan antiseptik dioleskan pada tali pusat yang baru dipotong untuk mencegah infeksi.

Sekitar 6 jam atau lebih setelah lahir, bayi dimandikan.
Perawat mencoba untuk tidak membersihkan bahan putih berminyak (verniks caseosa).

2. Mencegah Infeksi

Perempuan dapat melindungi dirinya dan calon bayinya dengan :

· Imunisasi terhadap rubela dan cacar air sebelum hamil

· Mencuci dan memasak makanan dengan baik, mencuci tangan (sebelum, setelah menyiapkan makanan, setelah menggunakan toilet dan setelah kontak dengan cairan dan kotoran tubuh)

· Hubungan seksual yang aman untuk mencegah penyakit menular seksual.

3. Mempertahankan usaha respirasi

Letakkan kepala bayi lebih rendah dari badannya sehingga lendir dapat mengalir ke luar dari mulut dan tenggorokan bayi. Pertahankan keadaan ini sampai bayi mulai bernafas. Jika bayi tidak segera mulai bernafas, gosoklah punggungnya dengan handuk atau kain. Jika ia tetap tidak bernafas, bersihkan lendir dari hidung dan mulutnya dengan menggunakan balon pompa penghisap atau kain bersih yang dililitkan di sekeliling jari tangan anda. Jika bayi ini tetap belum bernafas dalam waktu satu menit setelah lahir, lakukan segera pernafasan mulut ke mulut.

4. Mencegah kerusakan integritas kulit

Gantikan popok bayi setiap kail basah atau buang air. Jika kulitnya tampak merah, tukarlah popoknya lebih sering — atau sebaliknya, jangan menggunakan popok sama sekali.

5. Memberikan asuhan kepada keluarga

Asuhan yang dapat diberikan kepada keluarga adalah agar ibu memberikan ASI nya nir jadwal. Tetap menjaga kehangatan dan kebersihan bayi agar tubuh bayi tetap hangat dan dengan tetap menjaga kebersihan, lingkungan bayi yang bersih akan meminimalisir kuman yang ada di sekitar bayi.

Mandikan bayi setiap hari dengan sabun bayi dan air hangat. Jika ada lalat atau nyamuk, pasanglah kelambu bayi atau kain tipis pada tempat tidur bayi. Orang-orang yang menderita borok terbuka, demam, influenza, sakit tenggorokan atau sakit leher, TBC atau penyakit-penyakit infeksi lainnya tidak boleh menyentuh atau mendekati bayi. Letakkan bayi di tempat yang bersih, jauh dari asap dan debu.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bayi Baru Lahir adalah bayi yang baru lahir dari kehamilan cukup bulan yaitu 37 minggu – 42 minggu dan berat badan lahir 2500 s/d 4000 gr (Universitas Padjajaran 1997 : 98).

BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram (sampai 2499 gram) tanpa memandang masa kehamilan. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. Untuk keperluan bidan di desa berat lahir diterima dalam 24 jam pertama setelah lahir.

Berat badan lahir rendah (BBLR) terdapat 2 penyebab kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram, yaitu karena umur kehamilan kurang dari 37 minggu, berat badan lebih rendah dari semestinya, sekalipun umur kehamilan cukup atau kombinasi keduanya.

Infeksi pada bayi baru lahir yang tidak ditatalaksana dengan tepat dapat mengakibatkan akibat yang serius. Organ dan tubuh bayi sedang mengalami perkembangan yang pesat maka setiap gangguan pada proses tumbuh kembang dapat menggangu pertumbuhan, perkembangan, gangguan saraf, pernapasan, sensorik.

Dengan sistem kekebalan tubuh yang belum matang maka bayi belum siap menghadapi infeksi terutama bayi prematur atau bayi dengan gangguan kekebalan tubuh. Diagnosis yang tepat, pengobatan dan pemantauan yang optimal dapat memberikan kemungkinan terbaik bagi bayi untuk melewati masa infeksi.

3.2 Saran

Agar mahasiswa dan kader dapat memberikan penjelasan dan pengetahuan kepada masyarakat yang masih minim pengetahuannya tentang tanda-tanda BBL dan BBLR. Untuk dokter dapat menyarankan pemeriksaan apusan vagina untuk menentukan apakah seorang perempuan pembawa kuman GBS. Dokter juga memberikan antibiotik salap/tetes untuk mencegah konjungtivitis akibat kuman gonorea.

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Nasrul. (1998). Dasar – Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC. Jakarta.

Syahlan, J.H. (1996). Kebidanan Komunitas. Yayasan Bina Sumber Daya Kesehatan.

http://kosmo.vivanews.com/news/read/126379kenali_tanda_tanda_bahaya_bayi_baru_lahir

http://www.scribd.com/doc/21638963/Asuhan-Kebidanan-Bayi-Baru-Lahir-Normal

www.dinkesjatim.go.id/